Jumat, 28 Mei 2021

(Ustadz Ismail Yusanto)

Jangan pernah membandingkan hidupmu dengan hidup orang lain yang tidak berdakwah. Seharusnya kita yang mengajak mereka untuk menjadi pejuang seperti kita bukan kita yang terpengaruh menjadi seperti mereka
.
Bagaimana mungkin saat kita mendapatkan masalah justru kita menjauh dari Allah dengan meninggalkan dakwah? Jika ada banyak masalah, justru kita harus semakin giat berdakwah bukan justru meninggalkan dakwah.
.
Jika dakwah dimusuhi itu wajar, RASULULLAH juga dimusuhi. Tetaplah istiqamah, jangan pernah mundur apalagi berpaling lantaran tergoda harta, tahta dan wanita lalu berbelok ikut memusuhi dakwah, Na'udzubillah.
.
Kita sudah "On The Track", maka pertahankan. Berdakwahlah dengan benar, berbisnislah dengan benar selanjutnya biarlah Allah yang memutuskan. Yakinlah barangsiapa menolong agama Allah, maka Allah akan menolongnya.
.
(Ustadz Ismail Yusanto)

Selasa, 25 Mei 2021

KHUTBAH GERHANA BULAN Oleh: KH Hafidz Abdurrahman

KHUTBAH GERHANA BULAN 
Oleh: KH Hafidz Abdurrahman

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ، صَدَقَ وَعْدَهُ، وَنَصَرَ عَبْدَهُ، وَأَعَزَّ جُنْدَهُ، وَهَزَمَ اْلأَحْزَابَ وَحْدَهُ، وَهُوَ الْقَائِلُ سُبْحَانَهُ: ﴿وَمِنْ آيَاتِهِ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ ۚ لَا تَسْجُدُوا لِلشَّمْسِ وَلَا لِلْقَمَرِ وَاسْجُدُوا لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَهُنَّ إِن كُنتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ﴾ [سورة فصلت: ]، وَأَشْهَدُ أَنْ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَهُوَ خَيْرُ الْبَشَرِ، وَصَاحِبُ الْحَوْضِ الْكَوْثَرِ،صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ الْمُطَهَّرِ، وَعَلَى مَنْ صَاحَبَهُ وَأَزَرَهُ وَوَقَرَ، وَعَلَى التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ فِيْ كُلِّ أَثَرٍ، إِلَى يَوْمِ الْمَحْشَرِ.

أَمَّا بَعْدُ؛ فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ المُتَّقُوْنَ!

Hadirin jama’ah shalat Gerhana Bulan yang dimuliakan oleh Allah!

Malam ini, sekali lagi Allah tunjukkan kebesaran-Nya kepada kita, dengan terjadinya gerhana bulan, yang terjadi tak lama setelah gerhana bulan sebelumnya. Pertanda apakah ini? Tahukah kita, bahwa di zaman Nabi saw. hanya terjadi gerhana sekali. 

‘Aisyah radhiya-Llahu ‘anha menuturkan, bahwa pada zaman Nabi saw. hanya terjadi gerhana sekali. Itu terjadi, persis setelah wafatnya putra Nabi saw., Sayyidina Ibrahim. Orang kemudian menghubung-hubungkan wafatnya putra baginda saw. dengan gerhana itu, padahal tidak ada kaitannya. Karena itu, Nabi saw. bersabda:  

إنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللهِ لاَ تنْخَسِفَانِ لِمَوتِ أَحَدٍ، وَلاَ لِحَيَاتِهِ، فَإذَا رَأَيْتُمْ ذَلِكَ فَادْعُوا اللهَ وَكَبَّرُوْا وَصَلُّوْا وَتَصَدَّقُوْا 

“Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda di antara tanda-tanda kekuasaan Allah. Gerhana ini tidak terjadi karena kematian seseorang atau lahirnya seseorang. Jika melihat hal tersebut maka berdo’alah kepada Allah, bertakbirlah, kerjakanlah shalat dan bersedekahlah.” [Hr. Bukhari]

Memang benar, gerhana adalah tanda-tanda kebesaran Allah, yang ditunjukkan kepada umat manusia, agar manusia menyadari siapa dirinya, bahwa sehebat apapun dia, dengan segala kekuasaan dan apapun yang dimilikinya, dia tetaplah manusia. Hanya kepada Allah, hendaknya manusia menyembah, dan mengabdikan dirinya. Bukan kepada yang lain, baik kepada sesama manusia, maupun kepada mahatari dan bulan. Allah berfirman:

﴿وَمِنْ آيَاتِهِ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ ۚ لَا تَسْجُدُوا لِلشَّمْسِ وَلَا لِلْقَمَرِ وَاسْجُدُوا لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَهُنَّ إِن كُنتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ﴾ [سورة فصلت: 37]

“Di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya adalah terjadinya malam dan siang, terbitnya matahari dan bulan. Maka, janganlah kalian sujud kepada matahari dan bulan, tetapi sujudlah kepada Allah, Dzat yang Menciptakan semuanya itu, jika kalian benar-benar hanya beribadah kepada-Nya.” [Q.s. Fushilat: 37]

Matahari dan bulan mempunyai orbitnya sendiri, dan berputar, seolah alami. Padahal, semuanya itu atas kehendak Allah SWT. Allah berfirman: 

﴿وَالشَّمْسُ تَجْرِي لِمُسْتَقَرٍّ لَّهَا ۚ ذَٰلِكَ تَقْدِيرُ الْعَزِيزِ الْعَلِيمِ﴾ [سورة يس: 38]

“Matahari [juga bulan] itu berjalan mengikuti tempat orbitnya. Itu merupakan ketentuan Dzat yang Maha Perkasa lagi Maha Tahu.” [Q.s. Yasin: 38]

Karena itu, terjadinya gerhana matahari dan bulan, sekali lagi adalah tanda-tanda kekuasaan Allah. Dengan kata lain, jika Allah berkehendak, kapan saja Allah SWT bisa membolak-balik peredaran matahari dan bulan, dan bahkan menghentikannya. 

Hadirin jamaah shalat Gerhana yang dimuliakan Allah!

Gerhana matahari dan bulan bukan hanya tanda-tanda kekuasaan Allah biasa, tetapi juga merupakan tanda-tanda Hari Kiamat. Allah SWT berfirman: 

﴿يَسْأَلُ أَيَّانَ يَوْمُ الْقِيَامَةِ، فَإِذَا بَرِقَ الْبَصَرُ، وَخَسَفَ الْقَمَرُ، وَجُمِعَ الشَّمْسُ وَالْقَمَرُ، يَقُولُ الْإِنسَانُ يَوْمَئِذٍ أَيْنَ الْمَفَرُّ، كَلَّا لَا وَزَرَ، إِلَىٰ رَبِّكَ يَوْمَئِذٍ الْمُسْتَقَرُّ﴾ [سورة القيامة: 6-12]

“Ia berkata, “Bilakah hari kiamat itu?", maka apabila mata terbelalak (ketakutan), dan apabila bulan telah hilang cahayanya [mengalami gerhana], ketika matahari dan bulan dikumpulkan, pada hari itu manusia berkata, “Ke manakah tempat berlari?” Sekali-kali tidak! Tidak ada tempat berlindung! Hanya kepada Tuhanmu sajalah pada hari itu tempat kembali.” [Q.s. al-Qiyamah: 6-12]

Itulah mengapa, saat terjadinya gerhana, sikap yang ditunjukkan Nabi saw. adalah takut, gemetar, dan bergegas, sambil mengangkat jubahnya, menuju ke rumah Allah. Seolah-olah, langit dan bumi akan digulung, dan kiamat pun tiba. Dalam riwayat Bukhari, dari Abu Musa al-Asy’ari, dinyatakan:

فَإِذَا رَأَيْتُمْ شَيْئًا مِنْ ذَلِكَ فَافْزَعُوا إِلَى ذِكْرِهِ وَدُعَائِهِ وَاسْتِغْفَارِهِ

“Jika kalian melihat hal itu, maka bersegeralah dengan gemetar [penuh rasa takut] untuk mengingat-Nya, berdoa kepada-Nya dan meminta ampun kepada-Nya.” [Hr. Bukhari, Shahih al-Bukhari, Juz IV/184]

Nabi saw. juga bersabda: 

وَاللَّهِ لَوْ تَعْلَمُونَ مَا أَعْلَمُ لَضَحِكْتُمْ قَلِيلاً وَلَبَكَيْتُمْ كَثِيرًا

“Demi Allah, jika kalian mengetahui yang aku ketahui, niscaya kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis.”

Nabi saw. telah ditunjukkan oleh Allah SWT betapa dahsyatnya huru-hara Hari Kiamat, karena itu baginda saw. pun banyak menangis. Meski Nabi saw. telah diampuni segala kesalahannya, baik yang telah, sedang maupun yang akan datang, tetapi baginda saw. tetap memohon ampunan tak kurang dari 100 kali dalam sehari semalam. Air mata baginda saw. pun tumpah, hingga membasahi lantai, untuk meminta ampunan dari Rabb-nya. 

Padahal, Nabi saw. telah mengemban risalah-Nya dengan sempurna, menunaikan amanah, memberikan nasihat kepada umatnya, berdakwah dan berjihad sepanjang hayatnya. Lalu kita? Apa yang sudah kita lakukan? Apakah kita sudah mengemban dakwah, yang merupakan risalah Nabi saw? Apakah kita juga sudah memberi nasihat kepada umat, termasuk para pemimpinnya? Apakah kita juga sudah berjihad, sebagaimana Nabi saw? 

Alangkah naifnya kita, karena kita selama ini tak peduli terhadap dakwahnya, yang merupakan risalahnya. Kita juga tak pernah memberi nasihat kepada umat, termasuk para pemimpinnya. Apatah lagi berjihad, sebagaimana Nabi saw. Malah, tak jarang di antara kita, ikut menyerang Islam. Menyerang syariahnya. Menyerang kaum Muslim. Menyerang pengemban dakwah. Padahal, semuanya ini akan menghalangi kita masuk surga-Nya, dan menyeret kita ke neraka-Nya. Betapa berat hisab kita kelak di hadapan-Nya. 

Pun begitu, kita merasa tak bersalah. Karenanya, tidak pernah sungguh-sungguh memohon ampunan dari-Nya. Menginsafi dan menyesali kesalahan dan dosa kita. Berkomitmen untuk tak mengulanginya. Tapi, nyatanya tidak. 

Wahai kaum Muslim, inilah saatnya!

Bersegaralah untuk mendapatkan ampunan Tuhanmu, dan menggapai surga-Nya, yang luasnya seluas langit dan bumi. Segera tolonglah Allah dan Rasul-Nya. Tolonglah agama-Nya. Tolonglah para pejuang yang memperjuangkan tegaknya agama-Nya agar tegak di muka bumi ini dengan kaffah. Termasuk para pejuang yang memperjuangkan tegaknya syariah dan Khilafah. 

Dengan cara seperti itulah, Allah SWT benar-benar akan memberikan ampunan kepada kita. Itulah yang akan meringankan hisab kita di hadapan-Nya. Ketika anak, harta dan jabatan tak lagi berguna bagi kita. Fafirru ila-Llah! Berlarilah, segeralah menemui Allah!

Mari kita berdoa kepada Allah SWT: 

بِسْـمِ اللهِ الرَحْمٰنِ الرَحِيْمِ، اَلحَمْدُ ِللهِ رَبِّ اْلعَالَمِيْنَ، حَمْدًا يُوَافِى نِعَمَهُ، وَيُـدَافِعُ نِقَمَهُ وَيُكَافِئ مَزِيْدَهُ يَارَبَّـنَا لَكَ الحَمْدُ كَمَا يَنْبَغِى لِجَلاَلِ وَجْهِكَ وَعَظِيْمِ سُـلْطَانِك. 

اللَّهُمَّ يَارَبِّ، زَلَّتْ بِنَا الأَقْدَامُ، وَغَرِقْنَا فِي لُجَجِ الْمَعَاصِي وَالآثامِ، وَإِنّا مُقِرُّونَ بِالإِسَاءَةِ عَلَى أَنْفُسِنَا، نَرْجُو عَظِيمَ عَفْوِكَ الّذِي عَفَوْتَ بِهِ عَنْ الْخَاطِئِينَ، وَها نَحْنُ بِبابِكَ وَاقِفُونَ، وَمِنْ عَذَابِكَ خَائِفُونَ، وَلِثَوابِكَ مُؤَمِّلُونَ.. قَدْ تَعَرَّضْناَ لِعَفْوِكَ وَثَوابِكَ، فَارْحَمْ خُضُوعَنا، وَاجْبُرْ قُلُوبَنا، وَاغْفِرْ ذُنُوبَنا، وَتُبْ عَلَيْنا. 

اللَّهُمَّ اخْتِمْ بِالصّالِحاتِ أَعْمالَنا، وَعافِنا وَاعْفُ عَنّا وَسامِحْنا، وَتَجاوَزْ عَنْ سَيّئاتِنا، وَأَبْدِلْ سَيِّئاتِنا حَسَناتٍ، فَأَنْتَ وَلِّي ذَلِكَ وَالقَّادِرُ عَلَيْهِ، وَأَنْتَ أَهْلُ التَّقْوَى وَأَهْلُ الْمَغْفِرَةِ. اللَّهُمَّ قَدْ دَعَوْناكَ طالِبِينَ، وَرَجَوْناكَ رَاغِبِينَ فَلاَ تَرُدَّنا خَائِبِينَ وَلاَ مَحْرُومِينَ يا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ.

رَبِّ اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَلِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ الأَحْياءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ. اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنَّا صَالِحَ الأَعْمَالِ وَاجْعَلهَا خَالِصةً لِوَجْهِكَ الكَرِيمِ.. 

وَصَلِّ اللَّهُمَّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالتّابِعِينَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيِنِ، وَالحَمْدُ لله رَبِّ العَالَمِيِنَ.

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

KEHANCURAN ISRAEL MENURUT AL QUR'AN

KEHANCURAN ISRAEL MENURUT AL QUR'AN 

KH. Hafidz Abdurrahman

Al-Qur'an telah menyatakan, "La Tufsidunna fi al-Ardhi Marratain" (Kamu akan membuat kerusakan dua kali), dalam Q.s. al-Isra' (17): 4

Menurut Prof. Dr. Omar Abdul Kafi, setelah mereka membuat kerusakan, maka Allah wujudkan janji-Nya. Kekalahan dan kehancuran mereka.

Pertama, menurut Dr. Omar Abdul Kafi, kekalahan saat Khalifah Umar bin Khatthab menaklukkan Palestina, yang sebelumnya disabdakan Nabi saat Perang Khandak, 5 Hijriyah, bahwa Nabi telah diberi kunci Syam

فَإِذَا جَاۤءَ وَعۡدُ أُولَاهُمَا بَعَثۡنَا عَلَیۡكُمۡ عِبَادࣰا لَّنَاۤ أُو۟لِی بَأۡسࣲ شَدِیدࣲ فَجَاسُوا۟ خِلَـٰلَ ٱلدِّیَارِۚ وَكَانَ وَعۡدࣰا مَّفۡعُولࣰا

Maka apabila datang saat hukuman bagi (kejahatan) yang pertama dari kedua (kejahatan) itu, Kami datangkan kepadamu hamba-hamba Kami yang perkasa, lalu mereka merajalela di kampung-kampung. Dan itulah ketetapan yang pasti terlaksana

Itulah janji yang pertama. Ketika itu, Umar bersama pasukannya memasuki Baitul Maqdis dengan tenang, "Fa Jasu khilala ad-Diyar" (mereka memasuki perkampungan itu dengan tenang/tanpa peperangan)

Ketika Umar menerima kunci Baitul Maqdis, dan membuat perjanjian, maka pada point 6, dinyatakan bahwa orang Yahudi tidak boleh menetap di sana. Hanya orang Islam dan Kristen saja yang boleh menetap di sana

Orang Yahudi baru kembali sejak Inggris membuka jalan mereka ke sana sampai akhirnya mereka merebut dan menguasai Palestina hingga sekarang. Lalu kapan mereka akan dikalahkan yang kedua kalinya?

Jawabannya sebagaimana yang pertama. Ketika umat mempunyai pemimpin sekelas Umar, dengan negara dan kepemimpinannya yang bisa menguasai dunia

Ini sekaligus menguatkan akan terwujudnya bisyarah Nabi, sebagaimana yang dinyatakan kepada Ibn Hawalah, juga bisyarah kembalinya adidaya Islam, sebagaimana dalam hadits Nukman bin Basyir

Apakah ini masanya? Hanya Allah yang Maha Tahu. Tapi, yang pasti, Israel tidak akan hancur dengan sendirinya, kecuali ada "Ibadan lana uli ba'sin syadidin" (hamba Kami/Allah yang mempunyai pasukan yang luar biasa) sebagaimana di dalam Q.s. 17: 5 dan 7

Wallahu a'lam

Senin, 24 Mei 2021

MEMBELA PALESTINA TAK CUKUP DENGAN RETORIKABuletin Kaffah, No. 193 - 09 Syawal 1442 H/21 Mei 2021 M

MEMBELA PALESTINA TAK CUKUP DENGAN RETORIKA

Buletin Kaffah, No. 193 - 09 Syawal 1442 H/21 Mei 2021 M

Dunia kembali berduka. Palestina kembali terluka. Al-Quds kembali diserang secara membabi-buta. Al-Aqsha kembali dinista. Siapa lagi kalau bukan oleh kaum Zionis, sang durjana.

Duka makin menyesakkan dada saat dunia kembali terdiam. Para pejuang HAM kembali bungkam. Para penguasa negara adidaya, seperti AS, kembali menunjukkan sikap bermuka dua. Sama dengan tuannya, AS dan Barat, para penguasa Muslim, khususnya para penguasa Arab, kembali menjadi pecundang. Hanya pandai mengecam. Hanya pintar beretorika. Ditambah sedikit bantuan kemanusiaan. Itu pun sering hanya demi pencitraan. Tak sedikitpun ada kemauan untuk mengirimkan tentaranya. Untuk berjihad membela kaum Muslim di Palestina.

Padahal jelas, sudah ratusan korban wafat akibat keganasan kaum Zionis. Ratusan lainnya terluka. Padahal juga jelas, di mata Allah SWT, jangankan ratusan jiwa, pembunuhan satu orang saja tanpa haq sama dengan membunuh seluruh manusia. Allah SWT berfirman:

مَنْ قَتَلَ نَفْسًا بِغَيْرِ نَفْسٍ أَوْ فَسَادٍ فِي الْأَرْضِ فَكَأَنَّمَا قَتَلَ النَّاسَ جَمِيعًا

Siapa saja yang membunuh satu orang, bukan karena orang itu membunuh orang lain atau membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh seluruh manusia (TQS al-Maidah [5]: 32).

Bahkan jika yang terbunuh adalah seorang Muslim, maka itu jauh lebih dahsyat dibandingkan dengan kehancuran dunia ini. Demikian sebagaimana sabda Rasulullah saw.:

لَزَوَالُ الدُّنْيَا أَهْوَنُ عِنْدَ اللهِ مِنْ قَتْلِ رَجُلٍ مُسْلِمٍ

Kehancuran dunia ini lebih ringan di sisi Allah dibandingkan dengan pembunuhan seorang Muslim (HR at-Tirmidzi dan an-Nasa’i).

Apalagi derita kaum Muslim Palestina tidak terjadi saat ini saja. Sudah berlangsung lama. Juga sudah sering terjadi. 

Sebagaimana diketahui, penjajahan sekaligus pendudukan Palestina oleh Zionis Yahudi sudah berlangsung lebih dari 70 tahun jika dihitung sejak tahun 1948. Sejak itu, hingga kini, tragedi demi tragedi yang dialami kaum Muslim Palestina terus terjadi. Derita Palestina terus berulang. Ribuan bahkan ratusan ribu korban terus berjatuhan. Hal itu terus berlangsung sejak awal pendudukan hingga sekarang. Tanpa ada yang benar-benar serius berusaha memberikan pertolongan. Tidak PBB. Tidak AS, Rusia, Eropa atau Cina. Tidak para penguasa Muslim. Bahkan tidak pula para penguasa Arab yang menjadi tetangga dekatnya. Semuanya hanya menonton. Paling banter mengutuk dan mengecam.

Awal Penderitaan 

Tanah Palestina sesungguhnya merupakan tanah wakaf milik kaum Muslim. Bukan hanya milik bangsa Arab atau bangsa Palestina saja. Palestina telah berada di bawah kekuasaan Islam saat dibebaskan oleh Khalifah Umar bin al-Khathab ra. pada tahun 15 H. Beliaulah yang langsung menerima tanah tersebut dari Safruniyus di atas sebuah perjanjian yang dikenal dengan Perjanjian ‘Umariyah, yang di antara isinya yang berasal dari usulan orang-orang Nasrani, yaitu “agar orang Yahudi tidak boleh tinggal di dalamnya.” 

Namun, sejak Khilafah Utsmaniyah runtuh tahun 1924, akhirnya Bumi Palestina jatuh ke tangan Zionis Yahudi, sang agresor dan penjajah. Zionis Yahudi berhasil mendirikan entitas negaranya pada tahun 1948 dengan menduduki 77% tanah Palestina dan setelah mengusir 2/3 (dua pertiga) rakyat Palestina dari tanah mereka. Yang tersisa tinggal 156 ribu jiwa (17%) dari total warga entitas Israel saat didirikan. Itu pun mereka seperti warga asing di tanah mereka sendiri.

Sejak pendudukan itu, menurut Dr. Ibrahim Abu Jabir, sebanyak 478 desa dilumatkan dari total 585 desa yang ada di wilayah Palestina 1948. Akibatnya, sebanyak 804 ribu orang Palestina hijrah ke luar wilayah terjajah 1948. Sebanyak 30 ribu orang lainnya diusir dari tanah mereka ke daerah-daerah lain. 

Di bawah pendudukan dan kekejaman Zionis Yahudi sang penjajah, penderitaan adalah hal yang sudah sangat ‘akrab’ dengan bangsa Palestina. Sejak pendudukan Israel tahun 1948, sudah ratusan ribu orang Palestina tewas dibantai. Puluhan ribu luka-luka dan cedera bahkan cacat. Ratusan ribu kehilangan rumah, tempat tinggal dan pekerjaan. Ribuan wanita dilecehkan kehormatannya bahkan diperkosa. Ribuan anak-anak menjadi yatim-piatu.

Di luar itu, sejak 1967 kelompok Zionis radikal telah menyerang Masjid al-Aqsha lebih dari 100 kali. Padahal, bagi kaum Muslim, al-Aqsha adalah salah satu masjid agung. Al-Quds adalah tempat yang amat mulia, tanah wahyu dan kenabian. Ibnu Abbas menuturkan bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda, “Para nabi tinggal di Syam dan tidak ada sejengkal pun Kota Baitul Maqdis kecuali seorang nabi atau malaikat pernah berdoa atau berdiri di sana.” (HR at-Tirmidzi). 

Al-Quds pun merupakan tanah kiblat pertama bagi kaum Muslim sampai Allah SWT menurunkan wahyu untuk mengubah kiblat ke arah Ka’bah (QS al-Baqarah [2]: 144).

Selain itu, Masjid al-Aqsha adalah tempat suci ketiga bagi umat Islam dan satu dari tiga masjid yang direkomendasikan Nabi saw. untuk dikunjungi. Beliau bersabda: 

لَا تَشُدُّوا الرِّحَالَ إِلَّا إِلَى ثَلَاثَةِ مَسَاجِدَ مَسْجِدِي هَذَا وَالْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَالْمَسْجِدِ الْأَقْصَى

Tidaklah kalian mengadakan perjalanan dengan sengaja kecuali ke tiga masjid: Masjidku ini (Masjid Nabawi di Madinah), Masjidil Haram (di Makkah) dan Masjid al-Aqsha (HR al-Bukhari dan Muslim). 

Rasulullah saw. pun bersabda, “Sekali shalat di Masjidil Haram sama dengan 100.000 shalat. Sekali shalat di Masjidku (di Madinah) sama dengan 1.000 shalat. Sekali shalat di Masjid al-Aqsha sama dengan 500 shalat.” (HR ath-Thabarani dan al-Bazzar).

Karena itulah, ketika pada tahun 1099 pasukan Salib menaklukkan al-Quds—sekaligus membantai sekitar 30.000 kaum Muslim di sana dengan sadis—keinginan untuk menguasai kembali al-Quds tidak pernah padam di dada para penguasa Muslim saat itu. Akhirnya, pada tahun 1187, Salahuddin al-Ayyubi sebagai komandan pasukan Muslim saat itu, berhasil membebaskan kembali al-Quds yang telah diduduki selama sekitar 88 tahun (1099–1187) oleh kaum Salibis. 

Jalan Pembebasan Palestina

Karena itu untuk mengembalikan al-Quds dan membebaskan kembali Palestina dari cengkeraman kaum Zionis Yahudi saat ini, apa yang dilakukan oleh Salahuddin al-Ayyubi patut diteladani. Tidak lain jihad. Jihadlah jalan satu-satunya bagi pembebasan al-Quds dan Palestina. 

Jika ada kemauan politik dari para penguasa Arab dan Muslim, sebetulnya jihad untuk mengusir kaum Zionis Yahudi bukan perkara yang sulit dilakukan. Namun faktanya, setelah pendudukan Palestina oleh kaum Zionis Yahudi berjalan lebih dari 70 tahun, mengharapkan para penguasa Arab dan Muslim mau mengerahkan pasukan mereka untuk berjihad membela Palestina ibarat jauh panggang dari api.

Apalagi tragedi Palestina hanyalah pengulangan belaka dari ratusan bahkan ribuan tragedi yang menimpa umat Islam di seluruh dunia. Jelas, Palestina bukan tragedi pertama—bahkan mungkin bukan yang terakhir—yang menimpa umat Islam. Sebelum ini, bahkan hingga kini, masih sedang berlangsung tragedi pembantaian umat Islam di Myanmar (Burma); di Xinjiang, Cina; di Kashmir, India; dll.

Dengan seabreg penderitaan umat di berbagai belahan dunia saat ini, jelas umat makin membutuhkan Khilafah yang dipimpin oleh seorang khalifah. Sebabnya jelas, sebagaimana sabda Rasulullah saw.:

إِنَّمَا الإِمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَيُتَّقَى بِهِ

Imam (Khalifah) itu laksana perisai; kaum Muslim diperangi (oleh kaum kafir) di belakang dia dan dilindungi oleh dirinya (HR Muslim).

Apa yang disabdakan Rasulullah saw. di atas pernah dibuktikan dalam sejarah oleh para khalifah pada masa lalu. Salah satunya Khalifah Al-Mu’tashim Billah yang sukses menaklukkan Kota Amuriyah, kota terpenting bagi imperium Romawi saat itu, selain Konstantinopel.

Al-Qalqasyandi dalam kitabnya, Ma’âtsir al-Inâfah, menjelaskan salah satu sebab penaklukan kota itu pada tanggal 17 Ramadhan 223 H. Diceritakan bahwa penguasa Amuriyah, salah seorang raja Romawi, telah menawan wanita mulia keturunan Fathimah ra. Wanita itu dinistakan hingga berteriak dan menjerit meminta pertolongan.

Menurut Ibn Khalikan dalam Wafyah al-A’yan, juga Ibn al-Atsir dalam Al-Kâmil fî at-Târîkh, saat berita penawanan wanita mulia itu sampai ke telinga Khalifah Al-Mu’tashim Billah, saat itu sang Khalifah sedang berada di atas tempat tidurnya. Ia segera bangkit seraya berkata, “Aku segera memenuhi panggilanmu!”

Tidak berpikir lama, Khalifah Al-Mu’tashim Billah segera mengerahkan sekaligus memimpin sendiri puluhan ribu pasukan kaum Muslim menuju Kota Amuriyah. Terjadilah peperangan sengit. Kota Amuriyah pun berhasil ditaklukkan. Pasukan Romawi bisa dilumpuhkan. Sekitar 30 ribu tentaranya terbunuh. Sebanyak 30 ribu lainnya ditawan oleh pasukan kaum Muslim. Khalifah pun berhasil membebaskan wanita mulia tersebut. Khalifah lalu berkata di hadapan wanita itu, “Jadilah engkau saksi untukku di depan kakekmu (Nabi Muhammad saw.), bahwa aku telah datang untuk membebaskan kamu.”

Semoga Allah SWT merahmati Al-Mu’tashim Billah.

Alhasil, sekali lagi, umat memang butuh Khilafah, juga seorang khalifah seperti Al-Mu'tashim Billah. Semoga saja umat Islam di seluruh dunia segera memiliki kembali Khilafah, juga pemimpin pemberani yang mengayomi seperti Khalifah Al-Mu’tashim Billah yang akan menaklukkan Amerika, Eropa, Rusia dan Cina; menyatukan berbagai negeri Islam; menjaga kehormatan kaum Muslim; dan menolong kaum tertindas.
Insya Allah, masa yang mulia itu akan segera tiba karena memang telah di-nubuwwah-kan oleh Rasulullah saw.:

ثُمّ تَكُوْنُ خِلاَفَةً عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ

Kemudian akan datang kembali masa Khilafah yang mengikuti metode kenabian (HR Ahmad). []

Hikmah:

Rasulullah saw. bersabda:

الْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا

Mukmin dengan Mukmin lainnya bagaikan satu bangunan; sebagian menguatkan sebagian lainnya. (HR Bukhari, at-Tirmidzi, an-Nasa'i dan Ahmad). []
 
---*---

Download file PDF versi mobile:
http://bit.ly/kaffah193m

Download file PDF versi cetak:
http://bit.ly/kaffah193